Penjelasan, Perjanjian, dan Adab Pinjam Meminjam

Penjelasan, Perjanjian, dan Adab Pinjam Meminjam

Pengertian dari adab pinjam meminjam secara etimologi adalah suatu transaksi yang terjadi antara dua pihak, misalkan seseorang menyerahkan barang atau sejumlah uang kepada orang lain yang bersifat sukarela dan barang ataupun uang tersebut harus dikembalikan kembali kepada pihak pertama (si pemilik) tanpa mengurangi unsur apapun dalam pinjaman tersebut dalam jangka waktu tertentu. Hukum memberi pinjaman seperti ini dalam agama Islam adalah sunnah, yang berarti sangat dianjurkan. Adapun dengan syarat seperti di bawah ini:

  • Syarat orang yang meminjamkan (pemilik) dan orang yang diberi pinjaman (peminjam) adalah baligh (dewasa), berakal dan melakukannya atas kemauan diri sendiri.
  • Barang ataupun uang yang dipinjamkan merupakan milik pribadi si pemberi pinjaman, sehingga jika barang atau uang tersebut bukan ia sendiri yang memilikinya (milik orang lain) maka tidak boleh dipinjamkan ke pihak lainnya.
  • Orang yang meminjam uang atau barang, hanya diperbolehkan mengambil manfaat dari barang atau uang tersebut menurut apa yang diizinkan oleh si pemberi pinjaman. Misalkan jika si B berniat meminjam uang kepada si A, si A mengijinkan atau hendak memberi pinjaman asalkan si B benar-benar menggunakannya untuk kepentingan yang baik, atau sesuai dengan alasan kepada si A.
  • Pinjaman yang tidak diberi batas waktu maka si pemberi pinjaman berhak meminta kembali uang atau barang yang ia pinjamkan sewaktu-waktu.
  • Pinjaman yang diberi batas waktu, maka si peminjam berkewajiban segera mengembalikannya kepada si pemilik.

Definisi perjanjian adab pinjam meminjam adalah perjanjian yang riil, perjanjian baru dilaksanakan setelah adanya penyerahan barang, selama barang atau uang yang akan dipinjamkan belum diserahkan maka bab XIII KUHP belum bisa diterapkan. Apabila kedua belah pihak setuju dengan isi dari perjanjian tersebut maka buka berarti perjanjian pinjam dan mengganti telah terjadi, agar tidak keliru memahaminya dengan perjanjian pinjam pakai, maka kriteria yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

bisnis online
  • Pada perjanjian awal pemberian pinjaman, obyek pinjaman yang habis dalam masa pemakaian, dapat diganti dengan barang sejenis. Sedangkan dalam pinjam pakai, obyek pinjaman bukanlah barang yang dapat habis terpakai. Sehingga harus dikembalikan dalam kondisi barang yang sesungguhnya (obyek semula).
  • Resiko kerugian atau musnah nya barang pada masa pinjaman sepenuhnya menjadi beban pihak yang meminjam. Sedangkan pada pinjam pakai, resiko musnah atau hilangnya barang sepenuhnya merupakan beban si pemberi pinjaman (pemilik).
  • Si peminjam berkewajiban untuk membayar kontra prestasi atas pemakaian barang atau uang yang ia pinjam. Sedangkan pada pinjam pakai, pemakaian atas barang atau uang bersifat cuma-cuma.
  • Barang atau uang yang dipinjam langsung menjadi hak milik si peminjam. Sedangkan pada pinjam pakai, barang hanya digunakan saja, hak milik tetaplah dipegang oleh si pemberi pinjaman.

Adab Pinjam Meminjam, Membuatmu Nyaman!

Dalam hukum agama, kegiatan memberi pinjaman seperti ini sangatlah dianjurkan jika masih dalam corridor yang tidak melanggar hukum atau masih dalam hal kebaikan. Manfaat dari memberi pinjaman seperti ini adalah merupakan wujud kasih sayang seseorang kepada orang lain yang membutuhkan dan bertujuan untuk meningkatkan rasa kepedulian dan kekeluargaan.

Akan tetapi dalam urusan adab pinjam meminjam juga harus sesuai dengan adab yang berlaku, si pemberi pinjaman juga harus meminjamkannya dengan hati yang ikhlas dan sukarela sedangkan si peminjam juga harus menepati perjanjian yang berlaku, jika barang yang sudah dipinjam sudah tidak digunakan wajib dikembalikan kepada si pemiliknya atau jika sudah dapat mengganti obyek pinjaman yang habis pada masa pinjaman, si peminjam wajib segera mengganti lalu memberikannya pada si pemberi pinjaman.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *